Laporan bacaan

Karakteristik Peserta Didik


Oleh: Ni'ma

Nim: 11901296


Dalam proses belajar mengajar antara guru dan peserta didik diperlukan sekali yang  namanya pendekatan baik secara fisik maupun mental terlebih lagi guru sebagai  seseorang yang mempunyai ilmu yang akan membagi ilmunya tersebut kepada peserta  didik harus paham betul bagaimana perilaku serta karakteristik dari peserta didik yang  akan dididik oleh guru tersebut. Banyak cara yang dapat dilakukan agar seorang guru sebagai tenaga pengajar yang berintegritas, bersinergi serta layaknya panutan dalam melakukan pengajaran terhadap peserta didik, langkah demi langkah, step by step dapat dipelajari agar seorang guru bisa memahami perilaku dan karakteristik peserta didiknya agar bisa menjadikan peserta didiknya mampu memahami ilmu – ilmu yang akan diberikan oleh gurunya tersebut.Setiap siswa dapat dipastikan memiliki perilaku dan karakteristik yang sangat heterogen. Sebagian siswa sudah banyak tahu, sebagian lagi belum tahu sama sekali tentang materi yang diajarkan di kelas. Bila pengajar mengikuti kelompok siswa yang pertama, kelompok yang kedua merasa ketinggalan kereta, yaitu tidak dapat menangkap pelajaran yang diberikan. Sebaliknya, bila pengajar mengikuti kelompok yang kedua, yaitu mulai dari bawah, kelompok pertama akan merasa tidak belajar apa-apa dan bosan.Bagi setiap pengajar, mengetahui 

perilaku karakteristik awal siswa diperlukan dalam menyusun tujuan instruksional. 

Menurut Deterline (1965), teknologi instruksional merupakan aplikasi teknologi perilaku untuk menghasilkan perilaku khusus secara sistematik dalam rangka mencapai tujuan instruksional. Keadaan awal siswa yang heterogen dengan latar belakang serta kemampuan yang berbeda-beda akan jadi penghambat bagi proses pencapaian tujuan instruksional bila sejak awal pengajar tidak mengidentifikasi perilaku dan karakteristik siswa yang akan diajar sering sekali guru menentukan titik materi pembelajarannya berdasarkan halaman pertama yang terdapat dalam buku teks pelajaran. Padahal tidak selamanya pengetahuan siswa itu nol. Buku pelajaran tak dapat dijadikan bahan acuan menebak pengetahuan siswa,begitu juga dengan pandangan kasat mata seorang guru. Oleh karena itu,langkah yang perlu diambil adalah mengidentifikasi kemampuan dan karakteristik awal siswa.

Pengertian Karakteristik Menurut Pius Partanto, Dahlan (1994).

Karakteristik berasal dari kata karakter dengan arti tabiat/watak, pembawaan atau kebiasaan yang dimiliki oleh individu yang relatif tetap. Menurut Moh. Uzer Usman (1989) Karakteristik adalah mengacu kepada karakter dan gaya hidup seseorang serta nilai-nilai yang berkembang secara teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan mudah di perhatikan. Menurut Sudirman (1990) Karakteristik siswa adalah keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dari lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya. Menurut Hamzah. B. Uno (2007) Karakteristik siswa adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa yang terdiri dari minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar kemampuan berpikir, dan kemampuan awal yang dimiliki.

Cruickshank mengemukakan beberapa karakteristik umum siswa yang perlu mendapatkan perhatian dalam  mendesain proses atau aktivitas pembelajaran, yaitu: 

(1) kondisi sosial ekonomi, 

(2) faktor budaya, 

(3) jenis kelamin, 

(4) pertumbuhan, 

(5) gaya belajar dan 

(6) kemampuan belajar.

Semua karakteristik yang bersifat umum perlu dipertimbangkan dalam menciptakan proses belajar yang dapat membantu individu mencapai kemampuan yang optimal. Analisis karakteristik awal siswa merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk memperoleh pemahaman tentang; tuntutan, bakat, minat, kebutuhan dan kepentingan siswa, berkaitan dengan suatu program pembelajaran tertentu. Tahapan ini dipandang begitu perlu mengingat banyak pertimbangan seperti; siswa, perkembangan sosial, budaya, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kepentingan program pendidikan/pembelajaran tertentu yang akan diikuti siswa.

Dalam ilmu psikologi, perilaku adalah segenap manifestasi hayati individu dalam berinteraksi dengan lingkungan, mulai dari perilaku yang paling nampak sampai yang tidak tampak, dari yang dirasakan sampai yang tidak dirasakan. Dalam interaksinya, seseorang bisa menimbulkan perilaku yang bermacam-macam. Bila dikaitkan dengan belajar dan pendidikan, perilaku bergeser mengalami sebuah perubahan, misalnya, perilaku buruk menjadi baik, dari tidak terampil menjadi terampil, dari tidak tahu menjadi tahu, dan lain sebagainya. Dalam menentukan sebuah sistem instruksional, terdapat tiga macam sumber yang dapat memberikan informasi kepada pendesain instruksional dalam menentukan perilaku awal siswa, yaitu: 

1. Siswa atau calon siswa 

2. orang-orang yang mengetahui kemampuan siswa atau calon siswa dari dekat seperti 

pengajarnya terdahulu atau atasannya 

3. pengelola program pendidikan yang biasa mengajarkan mata pelajaran tersebut.

Teknik yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi perilaku awal siswa yaitu kuesioner, interview, observasi, dan tes. Subjek yang memberikan informasi diminta untuk mengidentifikasi seberapa jauh tingkat penguasaan siswa atau calon siswa dalam setiap perilaku khusus melalui skala penilaian.

Inilah pentingnya bagi pengajar untuk mengetahui perilaku awal siswa, karena dari perilaku inilah tergantung bagaimana proses belajar mengajar sebaiknya diatur dan apakah tujuan instruksional khusus yang mula-mula ditetapkan harus mengalami perubahan. Hal ini lebih-lebih berlaku bila perilaku awal itu menyangkut suatu kemampuan yang diperlukan untuk mencapai tujuan instruksional. Ketika pengajar telah mengetahui perilaku awal siswa, perlu kiranya memperhatikan hasil tersebut bagi pengembangan tujuan instruksional. Perlu diperhatikan bahwa tugas selanjutnya bagi pengajar tidak hanya sekedar menyesuaikan perilaku awal siswa dengan desain instruksional saja, tetapi lebih dari itu, pengajar harus mempunyai cara dalam memodifikasi tingkah laku awal menjadi tingkah laku final yang ingin dituju. Seorang psikolog terkenal Fred. S. Keller, merancang suatu program modifikasi tingkah laku bagi suatu kursus non gelar dalam psikologi umum.telah mendapatkan hasil yang memuaskan sehingga prosedur-prosedurnya dipakai untuk kursus-kursus psikologi atau bidang akademi lain di universitas-universitas beberapa negara. Programnya tersebut menekankan kepada individualisasi dalam kecepatan belajar, penentuan tujuan pendidikan, evaluasi yang dilakukan terus menerus untuk menentukan tingkat kemajuan setiap siswa dalam mencapai tujuan instruksional.

Di samping mengidentifikasi perilaku awal siswa, pengembang instruksional harus pula mengidentifikasi karakteristik siswa yang berhubungan dengan keperluan pengembangan instruksional. Minat siswa pada umumnya, misalnya pada olahraga dan musik, karena sebagian besar siswa adalah penggemar musik, dapat dijadikan bahan dalam memberikan contoh dalam rangka penjelasan materi pelajaran. 

Kemampuan siswa yang kurang dalam membaca bahasa Inggris merupakan masukan 

pula bagi pengembang instruksional untuk memilih bahan-bahan pelajaran yang tidak berbahasa Inggris atau menerjemahkannya terlebih dahulu ke dalam bahasa Indonesia. Demikian pula bila siswa senang dengan humor. Pendesain instruksional sebaiknya mempertimbangkan penggunaan lelucon dalam strategi instruksionalnya. Bila siswa sebagian besar tidak mempunyai video di rumah, pendesain instruksional tidak dapat membuat program video untuk dipelajari siswa di rumah. Informasi di 

atas perlu dicari oleh pengembang instruksional sehingga ia dapat mengembangkan sistem instruksional yang sesuai dengan karakteristik siswa/siswa. Teknik yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi karakteristik awal siswa sama dengan teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi perilaku awal, yaitu kuesioner, interview, observasi dan tes. Seperti halnya dalam mencari informasi perilaku awal siswa, informasi yang dikumpulkan pendesain instruksional terbatas pada karakteristik siswa yang ada manfaatnya dalam proses pengembangan instruksional. Tujuan mengetahui karakteristik siswa adalah untuk mengukur, apakah siswa akan mampu mencapai tujuan belajarnya atau tidak; sampai di mana minat siswa terhadap pelajaran yang 

akan dipelajari. Bila siswa mampu, hal-hal apa yang memperkuat; dan bila tidak mampu hal-hal apa yang menjadi penghambat. Hal-hal yang perlu diketahui dari siswa bukan hanya dilihat faktor-faktor akademisnya, tetapi juga dilihat faktor-faktor sosialnya, sebab kedua hal tersebut sangat mempengaruhi proses belajar siswa/siswa.

Ada yang lebih mudah mengerti dengan pendekatan visual, ada yang mudah menangkap verbal, dan ada yang lebih cocok bila ada kegiatan praktek, latihan, aktivitas fisik, atau simulasi. Identifikasi teknik belajar ini berkaitan dengan usaha meningkatkan perhatian siswa, dan ini disebut cognitive style mapping. Teknik menyediakan suatu kerangka dalam menggambar dan mencari sebab-sebab, mengapa individu-individu mempunyai teknik belajar yang berbeda-beda. Ada tiga hal yang 

perlu diuji sehubungan dengan tingkah laku siswa sebagaimana:

a. Sampai seberapa jauh seorang siswa dapat menangkap lambang-lambang teoritis baik berupa kata-kata ataupun angka-angka, ketajaman panca indera, dan penangkapan terhadap hal-hal yang subjektif seperti hal-hal yang berhubungan dengan kebudayaan. 

b. Bagaimana pengaruh siswa terhadap hal-hal yang diperoleh dari lambang-lambang teoritis di atas.

c. Bagaimana tabiat siswa dalam memberi alasan, bagaimana pendekatan pendekatan yang dilakukan oleh siswa terhadap suatu masalah dan proses penyimpulannya. 

d. Bagaimana kekuatan daya ingat siswa. 

Untuk mendapatkan data dari keempat hal tersebut mungkin bisa melalui tes diagnosis atau kuesioner. Hasil dari padanya merupakan merupakan indikasi karakteristik, latar belakang akademis dan sosial siswa yang akan berguna dalam pelaksanaan, baik pengajaran individu maupun kelompok.



Sumber: https://ejournal.stitpn.ac.id/index.php/manazhim/article/download/638/443





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Bacaan

Laporan Bacaan

kultur sekolah